Skip to main content

Kisruh Perayaan Waisak di Candi Borobudur


Masyarakat yang tidak merayakan Waisak pun antusias menghadirkan perayaan umat Buddha ini


Gambar ini saya ambil ketika Perayaan Waisak 2557, tanggal 25 Mei 2013. Jika banyak orang yang memprotes mengenai perayaan Waisak yang sangat tidak khusyuk, itu merupakan hal yang wajar. Untuk pertama kalinya saya pergi ke hari raya yang merupakan hari besar umat Buddha tersebut, saya bergumam dalam hati "Hebat! Betapa mereka sangat menerima keberadaan umat beragama lain." Mayoritas umat yang hadir dalam perayaan tersebut merupakan umat beragama lain, dengan jumlah yang sangat banyak, sebut saja mereka turis. Mengapa sangat banyak? Saya turut mengantri panjang dengan ribuan orang lainnya dan berusaha untuk masuk. Bukan hanya antrian panjang tapi juga antrian yang sangat berhimpitan. Tujuan utama saya datang yaitu untuk mengabadikan perayaan tersebut, tapi apa mau dikata baru masuk saja saya harus berebut antrian dengan banyak orang. Benar dugaan saya, ribuan manusia sudah duduk manis di atas permadani yang telah disediakan oleh panitia. 

Setahu saya, acara dimulai pukul 18.00 WIB dan saya berhasil masuk pukul 19.00 WIB. Foto di atas merupakan satu foto yang berhasil saya dapat, padahal harapan saya, saya dapat memiliki banyak koleksi foto dalam perayaan ini. Tapi ternyata untuk mengambil gambar tersebut sangat sulit karena banyaknya jumlah orang yang hadir dalam perayaan tersebut. Beberapa menit kemudian tiba-tiba wilayah tersebut hujan deras, cuaca dari siang memang tidak mendukung, mendung dan gerimis. Karena saya dan teman-teman membawa kamera, kami berusaha mencari tempat berlindung. Selama kami berlindung memang terjadi beberapa kejadian, pertama, salah satu panitia mengumumkan bahwa acara harus diundur karena Menteri Agama terlambat hadir dan panitia meminta maaf, terdengar sorakan riuh dari umat yang sebagian besar adalah turis. Kedua, keriuhan tersebut kembali hadir setelah beberapa jam kemudian Menteri Agama datang dan berpidato, masih dengan sorakan yang sama dengan sorakan pertama. Mungkin maksud mereka adalah menyatakan kekecewaan mereka. Setelah pidato ritual keagamaan pun di mulai, kericuhan mulai terdengar dari jauh ketika pemimpin agama mengelilingi candi. Sangat banyak turis yang berusaha mengabadikan hal tersebut dengan cara mendekat ke altar. Bahkan seorang biksu sampai menegur melalui microfon ketika masih memimpin doa. Teguran itu bukan hanya disampaikan satu atau dua kali tetapi berkali-kali. Bahkan ada beberapa biksu yang menjerit kesakitan karena kakinya diinjak oleh orang-orang yang naik ke atas altar tempat mereka memanjatkan doa. Sorakan kembali terdengar ketika panitia mengumumkan bahwa penerbangan lampion dibatalkan. Miris bukan?

Keesokan harinya kisruh tersebut ramai diperbincangkan di media sosial. Mungkin banyak yang merasa iba dengan kisruh yang terjadi. Dapat dilihatkan betapa miskinnya toleransi di Indonesia. Membanggakan keberagaman tapi menghargai agama orang lain saja sulit. Tapi tunggu dulu, jika kita dapat melihat dari perspektif yang berbeda maka tidak sepenuhnya turis yang "tidak memiliki toleransi" tersebut salah. Seharusnya, panitia yang menjadi penyelenggara sudah mengantisipasi kejadian seperti ini dengan mendatangkan pihak keamanan yang jumlahnya lebih banyak. Dengan pihak keamanan yang lebih banyak tentu saja sangat membantu panitia mensukseskan kegiatan tersebut. Keamanan tentu saja bagian yang sangat penting dalam perayaan Waisak mengingat kegiatan tersebut menarik perhatian banyak kalangan turis, baik domestik maupun mancanegara. Rendahnya tingkat keamanan juga dapat dilihat dari banyaknya turis yang kehilangan handphone. Jika kita dapat menilai dengan baik kejadian tersebut, kita tidak bisa menyalahkan satu pihak saja. Silakan teman-teman menilai dari berbagai perspektif. 

Comments

Popular posts from this blog

Gunung Mini Bernama Gunung Api Purba Nglanggeran

29-30 Juni 2013.  Gunung yang terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul merupakan salah satu kawasan alam yang litologinya disusun materi vulkanik tua dan bernilai ilmiah tinggi. Berdasarkan penelitian, gunung api ini merupakan gunung berapi aktif sekitar 60 juta tahun lalu.  “Sebenarnya apa sih yang kita cari? Bukan kah kasur di rumah jauh lebih empuk dari pada mendaki gunung seperti ini?” itu tadi pertanyaan teman saya ketika kami sedang dalam perjalanan mendaki Gunung Api Purba, Nglanggeran. Saya langsung menanggapi, “Karena kita terlalu jenuh pada hidup yang nyaman.” Jawaban saya bukan tanpa alasan, tapi pada kenyataannya itu lah jawaban yang paling tepat. Kami bisa saja jalan-jalan ke tempat yang lebih nyaman dengan medan yang lebih mudah dijangkau bukan dengan mendaki gunung seperti ini. Pendakian yang kami lakukan memang direncanakan secara mendadak yaitu sehari sebelum mendaki. Malamnya kami menyusun rencana dan Sabtu sorenya kami berangkat dari ...

AKU CINTA PADAMU, MANDALAWANGI

Aku cinta padamu, Mandalawangi Sebelum melangkahkan kaki pada pendakian kali ini aku sudah bertanya pada beberapa orang bahkan browsing langsung mengenai Mandalawangi. Ada apa dengan Mandalawangi? Pernah mendengar sosok aktivis bernama Soe Hok Gie? Dia merupakan aktivis mahasiswa pada orde lama. Soe Hok Gie sangat mencintai tempat ini, tempat di mana dia sering mengasingkan diri ketika lelah dengan hiruk pikuk ibu kota. Keindahan dan kedamaian Mandalawangi membuat seorang Soe Hok Gie menciptakan puisi. “Mandalawangi-Pangrango” Senja ini, ketika matahari turun Ke dalam jurang-jurangmu Aku datang kembali Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu Dan dalam dinginmu Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan Dan aku terima kau dalam keberadaanmu Seperti kau terima daku Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada Hutanmu adalah misteri...

Ancaman dan Peluang Bagi Masyarakat di Pulau Lemukutan

Memiliki potensi pariwisata yang terkenal, Pulau Lemukutan memang layak menjadi salah satu kawasan pariwisata yang diperhitungkan. Pulau yang ditempuh selama 2 jam dari Teluk Suak, Bengkayang, ini layak dijadikan salah satu primadona pariwisata di Indonesia. Beberapa tahun yang lalu Pulau Lemukutan tidak banyak diketahui, namun seiring berjalannya waktu dan semakin banyak anak muda yang hobby backpakeran, maka semakin banyak juga wisatawan yang berkunjung. Namun polah wisatawan yang berkunjung kerap kali tidak dapat di toleransi, terutama berhubungan dengan kebersihan. Banyak ditemukan sampah berserakan di wilayah pulau.   Hal ini selain mengganggu keindahan pulau, namun juga dapat mengancam biota laut yang ada di Pulau Lemukutan. Kurangnya kesadaran diri dari wisatawan akan kebersihan lingkungan mengakibatkan keindahan Pulau lemukutan terancam. “Pak, beberapa bulan yang lalu ketika saya berkunjung kemari Pulau Lemukutan masih tampak bersih, namun sekarang banyak sampah berse...