Skip to main content

Meraih Keagungan Mahameru

Mendaki itu candu begitu kata para pendaki. Saya berusaha memenuhi candu mendaki saya, pendakian berikutnya yaitu Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Sebelumnya saya hanya dapat memandang keagungan Mahameru dari Gunung Bromo. Gunung yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tersebut merupakan salah satu gunung favorit bagi pendaki. Jari manisku mengantarkan ku pada Mahameru, ketika tanpa sengaja aku sedang browsing mengenai suatu tour wisata yang membuka open trip ke Semeru. Biaya pendakian kala itu sebesar Rp 650.000, belum dengan transportasi Jogja-Malang. Kala itu aku berpikir biaya seharga tersebut relative murah, maklum saya masih pendaki pemula. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi.

Meraih Keagungan Mahameru

Saya pikir menginjakkan kaki di puncak tertinggi tanah Jawa hanya sebuah mimpi, tapi sebuah tekad mengantarkan saya pada sebuah perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Saya membeli tiket tujuan Jogja-Malang untuk keberangkatan malam pada 17 September 2014. Kebetulan ada saudara yang tinggal di Malang, akhirnya saya memutuskan untuk menginap di rumahnya. Saya tiba di Malang pukul 06.00 WIB. Suhu Malang sangat dingin, wajarnya saja karena Malang merupakan wilayah yang memiliki gunung, salah satunya Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Sudah siap berangkat. Packing.
Setelah menumpang istirahat selama 1 malam, besok paginya kami kumpul di Stasiun Malang kembali. Dari stasiun kami menggunakan angkot ke Tumpang, waktu yang ditempuh yaitu sekitar 40 menit perjalanan. 

Gedung rakyat Tumpang

Kami dipersilakan untuk packing terakhir dan melengkapi kebutuhan selama pendakian. Gedung Rakyat terletak tidak jauh dari pasar Tumpang, jika berjalan kaki bisa ditempuh sekitar 5 menit. Setelah packing terakhir, kami menaikkan carrier ke atas Jeep masing-masing. Rombongan kami menggunakan 4 buah Jeep. Sebelum naik ke Jeep kami diberi t-sirt dan buff yang sudah disediakan oleh Wisata Gunung (nama tour pendakian kami). 

Alam yang mempertemukan kami, alam tidak dapat memisahkan kami

Teman-teman pendakian ini tidak satu pun saya kenal, tapi yang saya tahu kami dari berbagai daerah, agama dan suku. Saya selalu suka bepergian karena alasan yang satu ini, perbedaan itu indah teman. Mereka orang-orang baik yang saya kenal selama pendakian ke Semeru.

Pemandangan selama perjalanan

Selama perjalanan dari Tumpang menuju Ranu Pani yang merupakan desa terakhir, mata kami dimanjakan oleh pemandangan alam yang luar biasa. Pemandangan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Menikmati alam secara lebih dekat.

Menikmati suasana pagi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, ini lukisan Tuhan yang sangat sempurna.

Perjalanan dari pasar Tumpang ke Ranupani ditempuh sekitar kurang lebih 1 jm, karena masih mampir dan harus berganti kendaraan. Pada waktu keberangkatan masyarakat sedang melakukan perbaikan jalan. 

Sampai di desa terakhir yaitu Desa Ranupani, kebetulan di sana lagi ada acara rakyat.

Menelusuri tepian Ranupani

Spot indah untuk menikmati Ranupani

Ranupani salah satu danau yang teradapat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Ranupani juga merupakan salah satu sumber air yang ada di desa ini. Jeep yang mengantar kami berhenti di lapangan dekat dengan Ranupani. Kebetulan di Ranupani sedang ada pesta rakyat, suara gamelan mengalun di wilayah ini. Kami diajak untuk menelusuri tepian Ranupani menuju ke Resort Ranupani, di sini setiap pendaki wajib melapor kepada petugas, dari jauh-jauh hari pun pendaki sudah harus mendaftar ke web TNBTS untuk pendakian mereka.
Resort Ranupani, pendaki wajib melapor


Sebelum mulai pendakian kami diminta untuk makan siang di warung yang terletak di depan Resort Ranupani. Pendakian dari Ranupani menuju Ranukumbolo ditempuh sekitar 4-6 jam.



Selamat Datang di gerbang pendakian Gunung Semeru


Pos I


Di sini pendaki bisa ngintip Mahameru.

Pos II, jarak pos I ke pos II tidak terlalu jauh, perjalanan tidak sampai 1 jam.
Setelah menempuh 4 jam perjalanan akhirnya kami sampai Ranukumbolo pukul 19.00 WIB namun masih ada rombongan yang belum datang. Sebagian besar dari kelompokku sudah sampai karena kelompok kami kelompok yang jalan terlebih dahulu. Sampai Ranukumbolo kami langsung berisitirahat di shelter, cuaca Ranukumbolo pada malam hari sangat dingin. Setelah seluruh rombongan sampai kami langsung mendirikan tenda, namun saya memilih tidur di shelter karena dingin dan badan yang sudah lelah.


Ranukumbolo pukul 5 pagi. Dinginnya luar biasa, indahnya juga luar biasa.

Tanjakan Cinta yang dipercaya pendaki memiliki mitos. 

Air minum untuk perjalanan ke Kalimati

Ranukumbolo di pagi hari yang cantik

Keesokan harinya kami bangun pukul 05.00 WIB untuk menikmati sunrise Ranukumbolo, tapi ternyata tidak ada sunrise di sini. Hanya ada pantulan dan cuaca yang masih dingin. Pukul 08.00 WIB setelah makan dan packing kami berangkat ke Kalimati. Melewati Tanjakan Cinta dan melewati Oro-Oro Ombo. Tanjakan Cinta yang terkenal dengan mitos cintanya itu ternyata cukup tinggi. Oro-oro Ombo juga gersang. Semeru menawarkan banyak kecantikan alam.

Foto berrsama sebelum menuju Kalimati

Tanjakan Cinta yang bikin capek
Melewati Tanjakan Cinta itu bukan perkara mudah, sama kayak mendapatkan cinta. Sulit! Mitosnya, jika keinginanmu tentang cinta ingin tercapai, kita harus memikirkan orang yang kita cintai dan tidak bolh menoleh ke belakang. Kalian percaya? Barang kali kalian harus mencobanya. Setelah lelah dengan Tanjakan Cinta mata pendaki akan dimanjakan oleh hamparan bunga yang dalam bahasa latinnya Verbena Brasiliensis Vell. Jika kita mendaki pada musim hujan maka mata pendaki akan dimanjakan dengan hamparan karpet ungu, berhubung saya mendaki pada musim kemarau, Oro-oro Ombo berubah menjadi padang rumput yang gersang.
Keindahan Oro-oro Ombo yang gersang
Setelah melewati Oro-oro Ombo, pos berikutnya yaitu Kandang Badak. Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan hingga menuju Jambangan. Di pos Jambangan puncak Mahameru sudah mulai terlihat. Perjalanan ke Kalimati semakn lengkap dengan mekarnya bunga Edelweiss yang tampak mekar dan menguning.

Pos terakhir sebelum Kalimati

Menikmati puncak Mahameru

Edelweiss di pos Jambangan

Kalimati

Batas terakhir pendakian yang selalu dilanggar oleh pendaki

Sampai Kalimati, pemandangan tidak kalah indahnya. Pendaki dapat menikmati letupan yang keluar dari kawah Jonggring Saloko hampir setiap 10 menit sekali. Setelah sampai Kalimati kami mendirikan tenda, masak, makan dan beristirahat untuk summit pada malam harinya. Cuaca sore di Kalimati sudah sangat dingin bahkan lebih dingin dari Ranukumbolo. Kalimati yang tadinya sepi sekarang sudah dipenuhi oleh tenda-tenda pendaki.
Menikmati Keagungan Mahameru dari balik Edelweiss 

Shelter terakhir yang berada di Kalimati
Pada itinerary, sumit dimulai pada pukul 23.00 WIB tetapi kami berangkat kurang lebih berangkat pukul 24.00 WIB. Meraih keagungan Mahameru, itu impian saya yang belum kesampaian. Saya sedang berada pada pendakian Semeru dan puncak sudah di depan mata. Saya masih percaya puncak merupakan bonus, tetapi suatu saat saya belum tentu punya banyak waktu untuk melakukan pendakian seperti ini, itulah sebabnya saya bertekad menginjak kan kaki di puncak. Puncak masih sangat jauh ketika rasa putus asa mulai memenuhi otak saya. Beberapa orang teman saya sudah turun dan kembali ke tenda karena menyerah, saya hampir saja memutuskan untuk pulang. Tapi harus ke tenda bersama siapa? Kebanyakan pendaki hilang karena tidak paham dengan jalur pendakian, saya tidak berani mengambil resiko dengan pulang sendirian. Satu-satunya pilihan yaitu sampai puncak.
Perjalanan menuju Mahameru, berharap mendapatkan sunrise tapi terlambat sampai puncak
Pukul 06.00 WIB terik matahari menjadi saksi bahwa saya meraih keagungan Mahameru. Mimpi saya yang sudah lama dan tidak pernh terealisasi itu menjadi kenyataan. Di kala pendaki lain sujud berdoa, saya terdiam dan tidak dapat berpikir apa-apa. Terdiam karena rasa lelah dan tidak percaya. Sampai pada akhirnya ada satu pendaki yang menyalami saya dan mengucapkan selamat. Pendaki tersebut tidak ikut dalam rombongan saya. Ternyata tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, saya yang dulunya sering masuk rumah sakit dan pingsan bisa mencapai puncak tertinggi di Pulau Jawa itu seperti mukjizat. Saya langsung berteriak senang dan berlari-lari tidak jelas ketika saya menyadari bahwa saya sudah di puncak. 

Samudera awan dari puncak para dewa

Pemandangan TNBTS dari puncak Mahameru

Letupan cantik yang selalu ditunggu pendaki

Bangga bisa menikmati indah negeri ini

Aku cinta padamu, Indonesia

Menikmati letupan cantik yang keluar dari kawah Jonggring Saloko

Perjalanan turun, kita bisa merosot kalo mau

Istirahat sejenak, menikmati pemandangan selama turun dari puncak Mahameru

Arcopodo
Setelah tidak kuat menahan dingin dan puas menyaksikan keindahan Mahameru kami turun dan kembali ke Kalimati untuk melanjutkan perjalanan ke Ranukumbolo. Badan saya terasa lelah dan makanan yang masuk ke dalam tubuh saya tidak ada sama sekali. Ketika sampai Kalimati saya belum makan nasi dan langsung packing. Beruntungnya teman pendakian saya yang baru saya kenal sangat baik hati. Mereka menemaniku selama perjalanan menuju Ranukumbolo. Ranukumbolo sore hari tidak kalah cantiknya, tenda pendaki sudah memenuhi Ranukumbolo. Keindahan Ranukumbolo masih bisa kami nikmati, besok pagi kami akan melanjutkan perjalanan ke Ranupani.
Suatu sore di Ranukumbolo
Saatnya pulang, hati saya terasa berat meninggalkan tempat seindah ini. Beberapa saat saya duduk dan menikmati pemandangan Ranukumbolo dari jalur pendakian. Suatu saat, saya akan kembali, menikmati keindahan Semeru dan kembali meraih keagungan Mahameru.
Menikmati keindahan Ranukumbolo

Ranukumbolo, saya pasti kembali!



Comments

Popular posts from this blog

Gunung Mini Bernama Gunung Api Purba Nglanggeran

29-30 Juni 2013.  Gunung yang terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul merupakan salah satu kawasan alam yang litologinya disusun materi vulkanik tua dan bernilai ilmiah tinggi. Berdasarkan penelitian, gunung api ini merupakan gunung berapi aktif sekitar 60 juta tahun lalu.  “Sebenarnya apa sih yang kita cari? Bukan kah kasur di rumah jauh lebih empuk dari pada mendaki gunung seperti ini?” itu tadi pertanyaan teman saya ketika kami sedang dalam perjalanan mendaki Gunung Api Purba, Nglanggeran. Saya langsung menanggapi, “Karena kita terlalu jenuh pada hidup yang nyaman.” Jawaban saya bukan tanpa alasan, tapi pada kenyataannya itu lah jawaban yang paling tepat. Kami bisa saja jalan-jalan ke tempat yang lebih nyaman dengan medan yang lebih mudah dijangkau bukan dengan mendaki gunung seperti ini. Pendakian yang kami lakukan memang direncanakan secara mendadak yaitu sehari sebelum mendaki. Malamnya kami menyusun rencana dan Sabtu sorenya kami berangkat dari ...

AKU CINTA PADAMU, MANDALAWANGI

Aku cinta padamu, Mandalawangi Sebelum melangkahkan kaki pada pendakian kali ini aku sudah bertanya pada beberapa orang bahkan browsing langsung mengenai Mandalawangi. Ada apa dengan Mandalawangi? Pernah mendengar sosok aktivis bernama Soe Hok Gie? Dia merupakan aktivis mahasiswa pada orde lama. Soe Hok Gie sangat mencintai tempat ini, tempat di mana dia sering mengasingkan diri ketika lelah dengan hiruk pikuk ibu kota. Keindahan dan kedamaian Mandalawangi membuat seorang Soe Hok Gie menciptakan puisi. “Mandalawangi-Pangrango” Senja ini, ketika matahari turun Ke dalam jurang-jurangmu Aku datang kembali Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu Dan dalam dinginmu Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan Dan aku terima kau dalam keberadaanmu Seperti kau terima daku Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada Hutanmu adalah misteri...

Ancaman dan Peluang Bagi Masyarakat di Pulau Lemukutan

Memiliki potensi pariwisata yang terkenal, Pulau Lemukutan memang layak menjadi salah satu kawasan pariwisata yang diperhitungkan. Pulau yang ditempuh selama 2 jam dari Teluk Suak, Bengkayang, ini layak dijadikan salah satu primadona pariwisata di Indonesia. Beberapa tahun yang lalu Pulau Lemukutan tidak banyak diketahui, namun seiring berjalannya waktu dan semakin banyak anak muda yang hobby backpakeran, maka semakin banyak juga wisatawan yang berkunjung. Namun polah wisatawan yang berkunjung kerap kali tidak dapat di toleransi, terutama berhubungan dengan kebersihan. Banyak ditemukan sampah berserakan di wilayah pulau.   Hal ini selain mengganggu keindahan pulau, namun juga dapat mengancam biota laut yang ada di Pulau Lemukutan. Kurangnya kesadaran diri dari wisatawan akan kebersihan lingkungan mengakibatkan keindahan Pulau lemukutan terancam. “Pak, beberapa bulan yang lalu ketika saya berkunjung kemari Pulau Lemukutan masih tampak bersih, namun sekarang banyak sampah berse...